Hot!

Other News

More news for your entertainment

Kerajaan Majapahit ( 1293-1500 )

Sejarah 

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan dengan luas wilayah yang terbesar di indonesia selain Kerajaan Sriwijaya. Artikel ini akan mencoba membahas sejarah kerajaan ini secara lengkap dan detail mulai dari sejarah berdirinya, Lokasi kerajaan, Kondisi sosial dan politik, Raja raja yang memerintah serta peninggalan dari kerajaan majapahit. Silahkan anda simak selengkapnya.

Sejarah Berdirinya Kerajaan Majapahit 

Sebelum kerajaan Majapahit berdiri, Kerajaan Singasari merupakan kerajaan yang paling kuat di tanah Jawa. Hal ini menarik perhatian dari Kubilai Khan, yaitu seorang penguasa dari Dinasti Yuan di Tiongkok. Ia kemudian mengirimkan utusan yang mempunyai nama Meng Chi untuk menuju ke kerajaan Singasari guna menuntut upeti. Kertanagara yang merupakan penguasa kerajaan Singasari yang terakhir menolak dengan tegas untuk membayar upeti dan ia juga mempermalukan utusan tersebut ( Meng Chi ) dengan cara merusak wajah serta memotong telinganya. Mendengar kabar tersebut Kubilai Khan marah kemudian ia memberangkatkan ekspedisi besar ke tanah Jawa pada tahun 1293 M.

Pada saat itu, Jayakatwang adipati Kediri, sudah menggulingkan kekuasaan serta membunuh Kertanegara. Atas saran dari Aria Wiraraja, Jayakatwang kemudian memberikan pengampunan kepada Raden Wijaya, yang merupakan menantu dari Kertanegara. Kemudian, Wiraraja mengirimkan utusan ke Daha, yang membawa sebuah surat yang berisi pernyataan, Bahwa Raden Wijaya menyerah dan ingin mengabdi kepada Raja Jayakatwang.

Jayakatwang memberi jawaban surat di atas dengan senang hati. Kemudian Raden Wijaya diberi wilayah hutan Tarik. Raden wijaya kemudian membuka hutan itu lalu membangun sebuah desa baru. Desa itu kemudian dinamakan Majapahit, Nama Majapahit diambil dari nama buah maja yang mempunyai rasa pahit dan rasa "pahit" dari buah tersebut.
wilayah Kerajaan Majapahit
Luas wilayah Kerajaan Majapahit, Photo credit
Pada waktu pasukan Mongol tiba, Raden Wijaya bersekutu dengan pasukan Mongol untuk memerangi Jayakatwang. Setelah berhasil menggulingkan kekuasaan Raja Jayakatwang, Raden Wijaya kemudian berbalik menyerang pasukan Mongol.

Karena mendapat serangan yang mengejutkan pasukan mongol terpaksa pulang kembali, pasukannya sendiri kalang-kabut karena mereka berada di negeri asing. Ditambah saat itu juga merupakan kesempatan terakhir pasukan mongol untuk bisa menangkap angin muson agar dapat kembali pulang, atau mereka harus menunggu selama enam bulan lagi.

Menurut para ahli tanggal pasti berdirinya Kerajaan Majapahit adalah saat penobatan Raden wijaya menjadi raja yaitu tanggal 10 november 1293. Raden wijaya sendiri memerintah majapahit dari tahun 1293 M sampai tahun 1309 M. Pendiri kerajaan majapahit adalah Raden Wijaya.

Letak Kerajaan Majapahit

Kerajaan majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di propinsi Jawa Timur, Indonesia dengan letak ibukota di wilayah yang sekarang bernama Trowulan di Kabupaten Mojokerto. Majapahit berdiri dari sekitar tahun 1293 hingga 1500 M.

Kerajaan ini mencapai masa puncak kejayaannya pada mas pemerintahan Hayam wuruk, dengan luas wilayahnya seluas wilayah negara indonesia saat ini, bahkan pengaruhnya sampai sampai ke beberapa negara lain di wilayah asia tenggara ( meskipun wilayah kekuasaannya masih diperdebatkan ).

Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai wilayah Nusantara serta dianggap sebagai salah satu dari kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Berdasarkan Negarakertagama, kekuasaan wilayahnya terbentang dari pulau Jawa, pulau Sumatra, Semenanjung Malaya, pulau Kalimantan, hingga wilayah Indonesia bagian timur.

Kondisi sosial dan politik kerajaan

Pengganti Raden wijaya adalah Jayanegara yang memerintah dari tahun 1309 M sampai tahun 1328 M, Saat di angkat menjadi raja usia jayanegara masih sangat muda yaitu 15 tahun. Berbeda dari ayahnya Jayanegara tidak mempunyai kecakapan dalam memerintah sehingga ia mendapat julukan "Kala Gemet" yang berarti lemah dan jahat.

Pada masa pemerintahannya banyak sekali terjadi pemberontakan, dari seluruh pemberontakan yang terjadi pemberontakan yang hampir berhasil menggulingkan kekuasaannya adalah pemberontakan oleh salah seorang kepercayaan dan penasehat raja bernama Ra Kuti.
Beruntung Gajah Mada yang pada saati itu menjadi pasukan pengawal raja berhasil memadamkan pemberontakan tersebut. Ia berhasil menyelamatkan jayanegara dengan mengungsikannya sementara ke desa bernama badander. Jayanegara meninggal akibat operasi yang dilakukan oleh tabib yang bernama Tancha, ia menaruh dendam terhadap jayanegara. Tancha lalu dibunuh oleh Gajah Mada.

Karena jayanegara tidak mempunyai keturunan maka posisinya digantikan oleh adiknya yang bernama Gayatri dengan gelar Tribuana Tunggadewi, ia memerintah majapahit dari tahun 1328 M sampai tahun 1350 M, Pada saat pemerintahannya kira-kira di tahun 1331 M terjadi pemberontakan di sadeng dan keta, keduanya berada di wilayah besuki jawa timur.

Pemberontakkan ini bisa dipadamkan  oleh Gajah Mada. Atas jasanya tersebut ia kemudian diangkat menjadi Mahapatih Majapahit. Pada saat pengangkatannya Gajah mada mengucapkan sumpah yang sangat terkenal yaitu sumpah palapa. Yang isinya : Gajah mada pantang bersenang-senang sebelum bisa menyatukan nusantara. Tribuana tunggadewi meninggal di tahun 1350 M.

Pengganti Tribuana Tunggadewi adalah putranya yang bernama Hayam Wuruk, ia memerintah dari tahun1350 M sampai tahun 1389 M. Pada masa pemerintahannya majapahit mengalami masa kejayaan, wilayah kekuasannya sangat luas seluas wilayah negara indonesia saat ini bahkan pengaruhnya sampai ke beberapa negara di wilayah asia tenggara. Peran gajah mada sangat besar dalam memperluas wilayah majapahit.

Pada masa pemerintahan hayam wuruk pula perkembangan karya satra mengalami kemajuan yang pesat, Pada tahun 1355 M di tulis kitab Negarakertagama oleh Mpu prapanca, demikian juga dengan kitab-kitab lain seperti sutasoma dan arjunawijaya oleh Mpu tantular. seorang musafir china yang bernama Ma-huan menulis jika pada masa pemerintahan hayam wuruk majapahit sudah mengenal kemajemukan budaya, agama dan adat istiadat.

Gajah mada meninggal pada tahun 1364. selama kurang lebih selama tiga tahun jabatan yang di tinggalkan gajah mada di biarkan kosong, baru pada tahun 1367 diangkatlah gajah enggon sebagai penggantinya. 

Pada tahun 1389 Hayam wuruk wafat, sepeninggalan hayam wuruk majapahit berangsur angsur melemah terutama di akibatkan oleh perebutan tahta. Ia di gantikan oleh putrinya yang bernama Kusumawardhani yang menikah dengan sepupunya sendiri pangeran Wikramawardhana.

Sebenarnya hayam wuruk juga mempunyai seorang anak laki-laki dari selirnya yang bernama Wirabhumi, Wirabhumi juga menuntut hak atas tahta. Wirabhumi sebenarnya sudah di beri daerah kekuasaan yaitu di wilayah blambangan jawa timur sekarang. Pada tahun 1405-1406 diperkirakan terjadi perebutan tahta wirabhumi dengan wikramawardhana yang dikenal dengan nama Perang paregreg. Perang ini berakhir dengan kemenangan wikramawardhan, wirabhumi kemudian di tangkap dan dihukum.

Terjadinya perang saudara ini melemahkan kendali majapahit atas daerah-daerah kekuasaannya, Negara kecil yang selama ini menjadi wilayah majapahit perlahan-lahan mulai melepaskan diri. Kondisi ini tertulis di dalam kitab pararaton dan dalam beberapa prasasti di sawentar kanigoro blitar.

Wikramawardhana meninggal pada tahun 1429, raja-raja berikutnya berturut-turut setelah Wikramawardhana adalah Dewi Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan, Hingga kemudian majapahit dikuasai oleh Demak, yang merupakan kerajaan islam pertama di indonesia yang muncul pda tahun 1522 M.

Kerajaan majapahit berakhir di tangan Raden Patah yang merupakan putra dari Kerthabumi raja majapahit, yang menganut agama islam dan belajar agama islam di pesantren Sunan Ampel di Jawa Timur yang bernama Ampel Denta.

Raja-raja Majapahit 


  1. Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana memerintah tahun 1293 - 1309
  2. Kalagamet bergelar Sri Jayanagara  memrintah tahun 1309 - 1328
  3. Sri Gitarja bergelar Tribhuwana Wijayatunggadewi memerintah tahun 1328 - 1350
  4. Hayam Wuruk  bergelar Sri Rajasanagara memerintah tahun 1350 - 1389
  5. Wikramawardhana memerintah tahun 1389 - 1429
  6. Suhita bergelar Dyah Ayu Kencana Wungu memerintah tahun 1429 - 1447
  7. Kertawijaya bergelar Brawijaya I memerintah tahun 1447 - 1451
  8. Rajasawardhana Brawijaya II memerintah tahun 1451 - 1453
  9. Purwawisesa atau Girishawardhana  bergelar Brawijaya III memerintah tahun 1456 - 1466
  10. Bhre Pandansalas, atau Suraprabhawa bergelar Brawijaya IV memerintah tahun 1466 - 1468
  11. Bhre Kertabumi bergelar Brawijaya V memerintah tahun 1468 - 1478
  12. Girindrawardhana bergelar Brawijaya VI memerintah tahun 1478 - 1498
  13. Patih Udara memerintah tahun 1498 - 1518 ( wikipedia raja raja majapahit )

Benda-benda Peninggalan Kerajaan Majapahit


  1. Candi Wringin Lawang
  2. Candi Brahu
  3. Candi Tikus
  4. Gapura Bajang Ratu
  5. Kolam Segaran
  6. Makam Putri Campa
  7. Candi Joltundo
  8. Kitab Negarakertagama
  9. Kitab Sutasoma
  10. Kitab Arjunawiwaha
  11. Kitab Kunjarakarna dan Parthayajna
  12. Kitab Pararaton

Demikian pembahasan tentang Sejarah Kerajaan Majapahit ( 1293-1500 ) semoga bermanfaat bagi pembaca semua.[Berbagai sumber]

Sejarah Kerajaan Singasari

Sejarah Kerajaan Singasari 

A. AWAL BERDIRINYA KERAJAAN

Pendiri Kerajaan Singasari adalah Ken Arok. Asal usul Ken Arok tidak jelas. Menurut kitab Pararaton, Ken Arok adalah anak seorang wanita tani dari Desa Pangkur (sebelah timur Gunung Kawi). Para ahli sejarah menduga ayah Ken Arok seorang pejabat kerajaan, mengingat wawasan berpikir, ambisi, dan strateginya cukup tinggi. Hal itu jarang dimiliki oleh seorang petani biasa. Pada mulanya Ken Arok hanya merupakan seorang abdi dari Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Ken Arok setelah mengabdi di Tumapel ingin menduduki jabatan akuwu dan sekaligus memperistri Ken Dedes (istri Tunggul Ametung). Dengan menggunakan tipu muslihat yang jitu, Ken Arok dapat membunuh Tunggul Ametung. Setelah itu, Ken Arok mengangkat dirinya menjadi akuwu di Tumapel dan memperistri Ken Dedes yang saat itu telah mengandung. Ken Arok kemudian mengumumkan bahwa dia adalah penjelmaan Dewa Brahma, Wisnu, dan Syiwa. Hal itu dimaksudkan agar Ken Arok dapat diterima secara sah oleh rakyat sebagai seorang pemimpin.

Tumapel pada waktu itu menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Kediri yang diperintah oleh Raja Kertajaya atau Dandang Gendis. Ken Arok ingin memberontak, tetapi menunggu saat yang tepat. Pada tahun 1222 datanglah beberapa pendeta dari Kediri untuk meminta perlindungan kepada Ken Arok karena tindakan yang sewenang-wenang dari Raja Kertajaya. Ken Arok menerima dengan senang hati dan mulailah menyusun barisan, menggembleng para prajurit, dan melakukan propaganda kepada rakyatnya untuk memberontak Kerajaan Kediri.

Setelah segala sesuatunya siap, berangkatlah sejumlah besar prajurit Tumapel menuju Kediri. Di daerah Ganter terjadilah peperangan dahsyat. Semua prajurit Kediri beserta rajanya dapat dibinasakan. Ken Arok disambut dengan gegap gempita oleh rakyat Tumapel dan Kediri. Selanjutnya, Ken Arok dinobatkan menjadi raja. Seluruh wilayah bekas Kerajaan Kediri disatukan dengan Tumapel yang kemudian disebut Kerajaan Singasari. Pusat kerajaan dipindahkan ke bagian timur, di sebelah Gunung Arjuna.

B. KEHIDUPAN POLITIK

Kehidupan politik pada masa Kerajaan Singasari dapat kita lihat dari raja-raja yang pernah memimipinya. Berikut ini adalah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Singasari.

1. Ken Arok (1222–1227).

Pendiri Kerajaan Singasari ialah Ken Arok yang menjadi Raja Singasari dengan gelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabumi. Munculnya Ken Arok sebagai raja pertama Singasari menandai munculnya suatu dinasti baru, yakni Dinasti Rajasa (Rajasawangsa) atau Girindra (Girindrawangsa). Ken Arok hanya memerintah selama lima tahun (1222–1227). Pada tahun 1227 Ken Arok dibunuh oleh seorang suruhan Anusapati (anak tiri Ken Arok). Ken Arok dimakamkan di Kegenengan dalam bangunan Siwa– Buddha.

2. Anusapati (1227–1248).

Dengan meninggalnya Ken Arok maka takhta Kerajaan Singasari jatuh ke tangan Anusapati. Dalam jangka waktu pemerintahaannya yang lama, Anusapati tidak banyak melakukan pembaharuan-pembaharuan karena larut dengan kesenangannya menyabung ayam.

Peristiwa kematian Ken Arok akhirnya terbongkar dan sampai juga ke Tohjoyo (putra Ken Arok dengan Ken Umang). Tohjoyo mengetahui bahwa Anusapati gemar menyabung ayam sehingga diundangnya Anusapati ke Gedong Jiwa ( tempat kediamanan Tohjoyo) untuk mengadakan pesta sabung ayam. Pada saat Anusapati asyik menyaksikan aduan ayamnya, secara tiba-tiba Tohjoyo menyabut keris buatan Empu Gandring yang dibawanya dan langsung menusuk Anusapati. Dengan demikian, meninggallah Anusapati yang didharmakan di Candi Kidal.

3) Tohjoyo (1248)

Dengan meninggalnya Anusapati maka takhta Kerajaan Singasari dipegang oleh Tohjoyo. Namun, Tohjoyo memerintah Kerajaan Singasari tidak lama sebab anak Anusapati yang bernama Ranggawuni berusaha membalas kematian ayahnya. Dengan bantuan Mahesa Cempaka dan para pengikutnya, Ranggawuni berhasil menggulingkan Tohjoyo dan kemudian menduduki singgasana.

4) Ranggawuni (1248–1268)

Ranggawuni naik takhta Kerajaan Singasari pada tahun 1248 dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardana oleh Mahesa Cempaka (anak dari Mahesa Wongateleng) yang diberi kedudukan sebagai ratu angabhaya dengan gelar Narasinghamurti. Ppemerintahan Ranggawuni membawa ketenteraman dan kesejahteran rakyat Singasari.

Pada tahun 1254, Wisnuwardana mengangkat putranya yang bernama Kertanegara sebagai yuwaraja (raja muda) dengan maksud mempersiapkannya menjadi raja besar di Kerajaan Singasari. Pada tahun 1268 Wisnuwardanameninggal dunia dan didharmakan di Jajaghu atau Candi Jago sebagai Buddha Amogapasa dan di Candi Waleri sebagai Siwa.

5) Kertanegara (1268–-1292).

Kertanegara adalah Raja Singasari terakhir dan terbesar karena mempunyai cita-cita untuk menyatukan seluruh Nusantara. Ia naik takhta pada tahun 1268 dengan gelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Dalam pemerintahannya, ia dibantu oleh tiga orang mahamentri, yaitu mahamentri i hino, mahamentri i halu, dan mahamenteri i sirikan. Untuk dapat mewujudkan gagasan penyatuan Nusantara, ia mengganti pejabat-pejabat yang kolot dengan yang baru, seperti Patih Raganata digantikan oleh Patih Aragani. Banyak Wide dijadikan Bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Aria Wiaraja.

Setelah Jawa dapat diselesaikan, kemudian perhatian ditujukan ke daerah lain. Kertanegara mengirimkan utusan ke Melayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu 1275 yang berhasil menguasai Kerajaan Melayu. Hal ini ditandai dengan mengirimkan patung Amogapasa ke Dharmasraya atas perintah raja Kertanegara. Tujuannya untuk menguasai Selat Malaka. Selain itu juga menaklukkan Pahang, Sunda, Bali, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan Gurun (Maluku). Kertanegara juga menjalin hubungan persahabatan dengan raja Champa, dengan tujuan untuk menahan perluasan kekuasaan Kublai Khan dari Dinasti Mongol. Kublai Khan menuntut rajaraja di daerah selatan termasuk Indonesia mengakuinya sebagai yang dipertuan. Kertanegara menolak dengan melukai utusannya yang bernama Mengki. Tindakan Kertanegara ini membuat Kublai Khan marah besar dan bermaksud menghukumnya dengan mengirikan pasukannya ke Jawa.

Mengetahui sebagian besar pasukan Singasari dikirim untuk menghadapi serangan Mongol, maka Jayakatwang menggunakan kesempatan untuk menyerangnya. Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya - Raja terakhir Kerajaan Kediri.  Serangan dilancarakan oleh Jayakatwang dari dua arah, yakni dari arah utara merupakan pasukan pancingan dan dari arah selatan merupakan pasukan inti. Pasukan Kediri dari arah selatan dipimpin langsung oleh Jayakatwang dan berhasil masuk istana dan menemukan Kertanagera berpesta pora dengan para pembesar istana. Kertanagera beserta pembesarpembesar istana tewas dalam serangan tersebut. Raden Wijaya (menantu Kertanegara) berhasil menyelamatkan diri dan menuju Madura dengan maksud minta perlindungan dan bantuan kepada Aria Wiraraja (Buapati Sumenep). Atas bantuan Aria Wiraraja, Raden Wijaya mendapat pengampunan dan mengabdi kepada Jayakatwang serta diberikan sebidang tanah yang bernama Tanah Terik yang nantinya menjadi asal usul Kerajaan Majapahit.

Dengan gugurnya Kertanegara pada tahun 1292, Kerajaan Singasari dikuasai oleh Jayakatwang. Ini berarti berakhirlah kekuasan Kerajaan Singasari. Sesuai dengan agama yang dianutnya, Kertanegara kemudian didharmakan sebagai Siwa-Buddha (Bairawa) di Candi Singasari. Sedangkan arca perwujudannya dikenal dengan nama Joko Dolog, yang sekarang berada di Taman Simpang, Surabaya.

C. KEHIDUPAN EKONOMI

Tidak banyak sumber prasasti dan berita dari negeri asing yang dapat memberi keterangan secara jelas kehidupan perekonomian rakyat Singasari. Akan tetapi, berdasarkan analisis bahwa pusat Kerajaan Singasari berada di sekitar Lembah Sungai Brantas dapat diduga bahwa rakyat Singasari banyak menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian. Keadaan itu juga didukung oleh hasil bumi yang melimpah sehingga menyebabkan Raja Kertanegara memperluas wilayah terutama tempat-tempat yang strategis untuk lalu lintas perdagangan.

Keberadaan Sungai Brantas dapat juga digunakan sebagai sarana lalu lintas perdagangan dari wilayah pedalaman dengan dunia luar. Dengan demikian, perdagangan juga menjadi andalan bagi pengembangan perekonomian Kerajaan Singasari.
D. KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA

Peninggalan kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain berupa prasasti, candi, dan patung. Candi peninggalan Kerajaan Singasari, antara lain Candi Jago, Candi Kidal, dan Candi Singasari. Adapun patung-patung yang berhasil ditemukan sebagai hasil kebudayaan Kerajaan Singasari, antara lain Patung Ken Dedes sebagai Dewi Prajnaparamita lambang dewi kesuburan dan Patung Kertanegara sebagai Amoghapasa.

Rakyat Singasari mengalami pasang surut kehidupan sejak zaman Ken Arok sampai masa pemerintahan Wisnuwardhana. Pada masa-masa pemerintahan Ken Arok, kehidupan sosial masyarakat sangat terjamin. Kemakmuran dan keteraturan kehidupan sosial masyarakat Singasari kemungkinan yang menyebabkan para brahmana meminta perlindungan kepada Ken Arok ataskekejaman rajanya.

Akan tetapi, pada masa pemerintahan Anusapati kehidupan masyarakat mulai terabaikan. Hal itu disebabkan raja sangat gemar menyabung ayam hingga melupakan pembangunan kerajaan.

Keadaan rakyat Singasari mulai berangsur-angsur membaik setelah Wisnuwardhana naik takhta Singasari. Kemakmuran makin dapat dirasakan rakyat Singasari setelah Kertanegara menjadi raja. Pada masa pemerintahan Kertanegara, kerajaan dibangun dengan baik. Dengan demikian, rakyat dapat hidup aman dan sejahtera.

Dengan kerja keras dan usaha yang tidak henti-henti, cita-cita Kertanegara ingin menyatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah naungan Singasari tercapai juga walaupun belum sempurna. Daerah kekuasaannya, meliputi Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Melayu, Semenanjung Malaka, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

E. MASA KEJAYAAN KERAJAAN SINGASARI
Puncak kejayaan Kerajaan Singasari terjadi pada masa pemerintahan Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara berhasil melakukan konsolidasi dengan jalan menempatkan pejabat yang memiliki kemampuan sesuai dengan bidang tugasnya. Raja tidak segan-segan untuk mengganti pejabat yang dipandang kurang berkualitas. Selain itu, raja juga melakukan persahabatan dengan kerajaan-kerajaan besar, salah satunya dengan Kerajaan Campa. Berkat politik pemerintahan yang dijalankan Kertanegara, Singasari berkembang menjadi salah satu kerajaan terkuat di Nusantara, baik dl bidang perdagangan maupun militer.
F. RUNTUHNYA KERAJAAN SINGASARI
Kerajaan Singasari mengalami keruntuhan oleh dua sebab utama, yaitu tekanan luar negeri dan pemberontakan dalam negeri. Tekanan asing datang dari Khubilai Khan danDinasti Yuan di Cina. Khubilai Khan menghendaki Singasari untuk menjadi taklukan Cina. Sebagai orang yang mengambil gelar sebagai maharajadiraja, tentu Kertanegara menolaknya. Penolakan itu disampaikan dengan cara menghina utusan Khubilai Khanyang bernama Meng-chi. Sejak itu konsentrasi Kertanegara terfokus pada usaha memperkuat pertahanan lautnya. Di tengah usaha menghadapi serangan dari Kekaisaran Mongol, tiba-tiba penguasa daerah Kediri yang bernama Jayakatwangmelakukan pemberontakan. Kediri sebagai wilayah kekuasaan terakhir Wangsa Isana, memang berpotensi untuk melakukan pemberontakan. Sebetulnya Kertanegara telah memperhitungkannya, sehingga mengambil menantu Ardharaja, anak Jayakatwang. Akan tetapi langkah Kertanegara ternyata tidak efektif. Pada tahun 1292 Jayakatwang menyerbu ibukota dan berhasil membunuh Kertanegara serta menguasai istana sehingga runtuhlan Kerajaan Singasari.
G. PENINGGALAN KERAJAAN SINGASARI
1. Candi Singosari
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap
     Candi ini berlokasi di Kecamatan Singosari,Kabupaten Malang dan terletak pada lembah di antara Pegunungan Tengger dan Gunung Arjuna. Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama serta Prasasti Gajah Mada yang bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat(meninggal) pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun.
2. Candi Jago
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap
     Arsitektur Candi Jago disusun seperti teras punden berundak. Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Sengan keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
3. Candi Sumberawan
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi Sumberawan merupakan satu-satunya stupa yang ditemukan di Jawa Timur. Dengan jarak sekitar 6 km dari Candi Singosari, Candi ini merupakan peninggalan Kerajaan Singasari dan digunakan oleh umat Buddha pada masa itu. Pemandangan di sekitar candi ini sangat indah karena terletak di dekat sebuah telaga yang sangat bening airnya. Keadaan inilah yang memberi nama Candi Rawan.
4. Arca Dwarapala
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Arca ini berbentuk Monster dengan ukuran yang sangat besar. Menurut penjaga situs sejarah ini, arca Dwarapala merupakan pertanda masuk ke wilayah kotaraja, namun hingga saat ini tidak ditemukan secara pasti dimanan letak kotaraja Singhasari.
5. Prasasti Manjusri
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta
6. Prasasti Mula Malurung
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Mula Malurung adalah piagam pengesahan penganugrahan desa Mula dan desa Malurung untuk tokoh bernama Pranaraja. Prasasti ini berupa lempengan-lempengan tembaga yang diterbitkan Kertanagara pada tahun 1255 sebagai raja muda di Kadiri, atas perintah ayahnya Wisnuwardhana raja Singhasari.
     Kumpulan lempengan Prasasti Mula Malurung ditemukan pada dua waktu yang berbeda. Sebanyak sepuluh lempeng ditemukan pada tahun 1975 di dekat kota Kediri, Jawa Timur. Sedangkan pada bulan Mei 2001, kembali ditemukan tiga lempeng di lapak penjual barang loak, tak jauh dari lokasi penemuan sebelumnya. Keseluruhan lempeng prasasti saat ini disimpan di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
7. Prasastri Singosari
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Singosari, yang bertarikh tahun 1351 M, ditemukan di Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur dan sekarang disimpan di Museum Gajah dan ditulis dengan Aksara Jawa.
     Prasasti ini ditulis untuk mengenang pembangunan sebuah caitya atau candi pemakaman yang dilaksanakan oleh Mahapatih Gajah Mada. Paruh pertama prasasti ini merupakan pentarikhan tanggal yang sangat terperinci, termasuk pemaparan letak benda-benda angkasa. Paruh kedua mengemukakan maksud prasasti ini, yaitu sebagai pariwara pembangunan sebuah caitya.
8. Candi Jawi
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi ini terletak di pertengahan jalan raya antara Kecamatan Pandaan - Kecamatan Prigen dan Pringebukan. Candi Jawi banyak dikira sebagai tempat pemujaan atau tempat peribadatan Buddha, namun sebenarnya merupakan tempat pedharmaan atau penyimpanan abu dari raja terakhir Singhasari, Kertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singhasari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat peribadatan Raja Kertanegara.
9. Prasasti Wurare
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Prasasti Wurare adalah sebuah prasasti yang isinya memperingati penobatan arca Mahaksobhya di sebuah tempat bernama Wurare (sehingga prasastinya disebut Prasasti Wurare). Prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta, dan bertarikh 1211 Saka atau 21 November 1289. Arca tersebut sebagai penghormatan dan perlambang bagi Raja Kertanegara dari kerajaan Singhasari, yang dianggap oleh keturunannya telah mencapai derajat Jina (Buddha Agung). Sedangkan tulisan prasastinya ditulis melingkar pada bagian bawahnya.

10. Candi Kidal
Sejarah dan Peninggalan Kerajaan Singasari Lengkap

     Candi Kidal adalah salah satu candi warisan dari kerajaan Singasari. Candi ini dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar Anusapati, Raja kedua dari Singhasari, yang memerintah selama 20 tahun (1227 - 1248). Kematian Anusapati dibunuh oleh Panji Tohjaya sebagai bagian dari perebutan kekuasaan Singhasari, juga diyakini sebagai bagian dari kutukan Mpu Gandring.

Referensi :
http://www.zonasiswa.com/2015/04/sejarah-kerajaan-singasari-kehidupan.html
http://informasiana.com/sejarah-kerajaan-singasari-di-jatim/ 
http://freszter-frets-ali.blogspot.co.id/2014/08/kerajaan-singasari-dan-peninggalannya.html